Lembaga Studi Agama dan Filsafat

Lembaga Studi Agama dan Filsafat
Rabu, 10 Maret 2010
Liberalisme: Menakar Sikap Liberal Sebagai Keutamaan Religius Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail

Oleh: Franz Magnis-Suseno

Liberalisme merupakan ajaran tentang masyarakat, negara dan ekonomi yang berkembang di Eropa Barat, terutama di kepulauan Britania dan Perancis, yang menempatkan kebebasan sebagai nilai tertinggi. Liberalisme sangat dipengaruhi oleh cita-cita Aufklärung (Pencerahan akal budi) yang mencakup unsur-unsur dasar ideologis seperti individualisme, rasionalisme dan pandangan dunia deistik – yang terakhir belakangan ini berlaku terutama di Eropa Kontinental dan bukan di Inggris atau Amerika Serikat.

Selengkapnya...
 
Sekularisme, Liberalisme dan Pluralisme Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail

Oleh: F. Budi Hardiman


Saya akan menjelaskan tiga “isme” yang sejak Orde Baru memenuhi lanskap politik masyarakat kita, namun sayang sekali, ketiganya juga kerap disalahmengerti. Yang dimaksud adalah “sekularisme”, “liberalisme” dan “pluralisme”. Para ulama, khususnya yang bersentuhan dengan dimensi kekuasaan, melihat “sekularisme” sebagai lawan main mereka. “Liberalisme”, sekurangnya yang banyak disalahmengerti di negeri kita, lebih dilihat sebagai ideologi ekonomis yang adalah lawan main sosialisme. Dan yang muncul terakhir dan kerap dikaitkan dengan pandangan-pandangan dalam kebudayaan, pluralisme, adalah lawan main para fundamentalis religius, seperti juga sekularisme. Apakah sebenarnya ketiga “isme” itu? Kita mencoba mengerti ketiganya agar tidak terlalu terburu-buru mengecam atau melaknatkan mereka.
 

Selengkapnya...
 
Analisis Sosial Relasi Etno-Religius di Indonesia Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Ole: Meuthia Ganie-Rochman

Peneliti dan pengajar  pada Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI.

Hubungan antar etnis dan agama melibatkan banyak faktor. Sering ditemukan dimana kasus yang berbeda melibatkan faktor-faktor yang sama. Namun dalam setiap kasus, bagaimana bentuknya dan kemana mengarah, akan berbeda dengan yang lain. Hal ini disebabkan karena dalam kenyataan sosial, faktor-faktor bersifat variabel. Bentuk dan arah gejala sosialnya tergantung juga pada karakter dari faktor-faktor tersebut serta caranya berinteraksi dengan faktor lain.


Beberapa faktor penting yang dianggap relevan dengan situasi masyarakat Indonesia akan dibahas dalam kesempatan ini yaitu: (a) gagasan filosofis/teori tentang hubungan kelompok dalam suatu kewarganegaraan; (b) kebijakan negara; (c) batasan sosial; (d) kelembagaan dan organisasi; (e) konteks lokal; (f) “masyarakat sipil”

Selengkapnya...
 
Bahaya Sekularisme Sebagai Akibat Industrialisasi Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail

Oleh: Franz Dähler

Kata sekularisasi dan sekularisme berasal dari kata Latin “saeculum”, yang berarti abad atau dunia ini dengan sejarahnya. Sekularisasi adalah proses historis, di mana masyarakat melepaskan diri dari dominasi agama, dengan lebih mengutamakan kehidupan duniawi daripada norma-norma agama. Konsekuensinya, negara dan agama tidak dipandang lagi sebagai kesatuan dan teologi tidak lagi menguasai ilmu-ilmu lain. Adanya Tuhan (atau dewa-dewi dalam politeisme dan roh-roh dalam animisme) tidak mesti disangkal, tetapi dipahami bahwa kekuatan ilahi tidak langsung menentukan kehidupan masyarakat. Kehidupan di akhirat, dimensi transendental (yang melebihi dunia ini), tidak dihayati lagi sebagai kebutuhan primer.


Sementara sekularisme adalah sikap atau filsafat yang menekan dunia ini secara eksklusif dan menolak agama sebagai norma etika. Tuhan tentu tidak langsung disangkal, tetapi dirasakan tidak relevan untuk dunia ini. Kalau sampai menyangkal adanya Tuhan, inilah yang disebut ateisme.
Sekularisme dan sekularisasi, meskipun kait-mengkait, tidak boleh disamaratakan. Sekularisasi adalah proses historis yang bertahap dan mengandung dimensi positif dan negatif. Proses ini berbeda-beda menurut kebudayaan masyarakat. Biasanya agama masih memainkan peranan, meskipun tidak menentukan. Tidak ada lagi dominasi dari satu agama. Sedangkan sekularisme adalah sikap melalaikan agama sama sekali dan menyudutkannya dalam kehidupan individual, bahkan menentangnya.

 

Selengkapnya...
 
Refleksi Tentang Kebudayaan Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail

Oleh: M. Dawam Rahardjo

Dalam pengertian sehari-hari, dalam pengertian awam atau dalam pengertian popular, pertama-tama kebudayaan dipahami sebagai kata benda atau bahkan benda itu sendiri. Hanya saja bukan benda yang tak bernilai, melainkan benda yang bernilai keindahan. Karena itulah maka kebudayaan sering dianggap sama dengan suatu barang seni, misalnya patung, musik, tari-tarian, lukisan  atau pertunjukan teater. Paling tidak itu adalah persepsi di masa lalu, karena lambannya perubahan, sehingga kestatisan itu mempengaruhi persepsi manusia. Kini, kebudayaan berada dalam situasi yang berubah, bahkan berubah sangat cepat. Sehingga karenanya, pengertian orang tentang kebudayaan berubah, yang semula statis menjadi dinamis.

Selengkapnya...
 
Meredam Konflik, Merayakan Multikulturalisme Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail

Oleh: M. Dawam Rahardjo.

Di Indonesia, multikulturalisme telah menjadi isu yang cukup marak akhir-akhir ini. Diskusi timbul karena munculnya persepsi yang berbeda mengenai multikulturalisme ini. Namun wacana mengenai hal ini tidak bisa ditolak, walaupun muncul pula gejala penolakan terhadap multikulturalisme dalam persepsi tertentu, karena masyarakat multikultur telah merupakan suatu realitas di Indonesia. Timbulnya masyarakat multikultur, atau lebih sederhana terjadinya pertemuan antar kultur, telah terjadi di mana-mana, terutama sejak Orde Baru, sebagai dampak dari pembangunan.

Selengkapnya...
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 Selanjutnya > Akhir >>

Hasil 12 - 19 dari 19
Copyright (c) 2007, LSAF - Lembaga Studi Agama dan Filsafat