|
Meredam Konflik, Merayakan Multikulturalisme |
|
|
|
Oleh: M. Dawam Rahardjo. Di Indonesia, multikulturalisme telah menjadi isu yang cukup marak akhir-akhir ini. Diskusi timbul karena munculnya persepsi yang berbeda mengenai multikulturalisme ini. Namun wacana mengenai hal ini tidak bisa ditolak, walaupun muncul pula gejala penolakan terhadap multikulturalisme dalam persepsi tertentu, karena masyarakat multikultur telah merupakan suatu realitas di Indonesia. Timbulnya masyarakat multikultur, atau lebih sederhana terjadinya pertemuan antar kultur, telah terjadi di mana-mana, terutama sejak Orde Baru, sebagai dampak dari pembangunan. |
|
Selengkapnya...
|
|
Pluralisme dan Spiritualisme |
|
|
|
Oleh: M. Dawam Rahardjo Dari sudut ontologi, ada dua pandangan mengenai pluralisme. Pertama, yang mengatakan bahwa pluralisme adalah suatu paham baru yang lahir dalam masyarakat modern. Hal ini berkaitan dengan dua fenomena. Pertama, kesadaran bahwa pluralitas masyarakat dan budaya adalah suatu gejala yang memang merupakan ciri khas masyarakat modern melalui mobilitas dan konsentrasi demografis, terutama di kota-kota. Dari observasi dewasa ini masih nampak, di Indonesia umpamnaya, adalah masyarakat yang plural di satu pihak, dan masyarakat homogen di lain pihak. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Refleksi Tentang Kebudayaan |
|
|
|
Oleh: M. Dawam Rahardjo Dalam pengertian sehari-hari, dalam pengertian awam atau dalam pengertian popular, pertama-tama kebudayaan dipahami sebagai kata benda atau bahkan benda itu sendiri. Hanya saja bukan benda yang tak bernilai, melainkan benda yang bernilai keindahan. Karena itulah maka kebudayaan sering dianggap sama dengan suatu barang seni, misalnya patung, musik, tari-tarian, lukisan atau pertunjukan teater. Paling tidak itu adalah persepsi di masa lalu, karena lambannya perubahan, sehingga kestatisan itu mempengaruhi persepsi manusia. Kini, kebudayaan berada dalam situasi yang berubah, bahkan berubah sangat cepat. Sehingga karenanya, pengertian orang tentang kebudayaan berubah, yang semula statis menjadi dinamis. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Agama di Ranah Publik |
|
|
|
Oleh: M Dawam Rahardjo Bagaimana menempatkan agama dalam konteks keindonesiaan adalah persoalan klasik yang sama tuanya dengan republik ini. Sejak awal, para founding fathers telah terlibat dalam perdebatan konstruktif mengenai dasar negara, apakah Indonesia akan menjadi negara Islam atau sekuler. Dengan alasan persatuan, Indonesia kemudian didirikan dalam bentuk sekuler, dengan tidak mengeksplisitkan “Islam” dalam dasar negara. Tapi kemudian tidak ada yang benar-benar bisa membantah, bahwa konflik agama (Islam) dan bentuk negara sekuler terus berlangsung. Agama terus merangsek masuk ke wilayah publik. Berbagai konflik bernuansa agama terus terjadi sejak negara didirikan. Konflik itu memuncak di awal reformasi ketika terjadi kerusuhan massal, ratusan gereja dan tempat usaha etnis Cina dibakar, dirusak, dan dijarah. Pada bulan Mei 1998, kerusuhan bernuansa SARA menewaskan lebih dari 1000 orang. Kerusuhan Timor-Timur, Poso, Ambon, Sambas, dan lainnya adalah sebagian dari daftar panjang kerusuhan yang dilatarbelakangi oleh konflik agama. |
|
Selengkapnya...
|
|
|