Lembaga Studi Agama dan Filsafat

Lembaga Studi Agama dan Filsafat
Kamis, 09 September 2010
Edisi VIII Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail

Salam Redaksi

Memantapkan Demokrasi dengan Menenggang Perbedaan

Memanasnya kontroversi perda-perda syariat dan adat, belakangan ini, serta banyaknya regulasi negara yang mendiskriminasikan hak-hak dan kebebasan individu maupun kelompok tertentu, menunjukkan betapa sangat tidak memadainya proses penetapan suatu aturan hukum di negeri ini. Menyadari teramat plural dan kompleksnya masyarakat Indonesia dengan nilai-nilai, kepentingan serta preferensi yang tidak saja unik dan berbeda, namun tidak jarang juga bertentangan satu sama lainnya, maka dibutuhkan mekanisme yang dapat mewadahi sekaligus menjadi jalan keluar bagi karut-marutnya realitas politik dan hukum di Indonesia. Dengan begitu, aspirasi warga tidak menguap atau sebaliknya mengeras menjadi sikap intoleran dan tindak anarkis – lantaran memuncaknya ketidakpuasan warga yang tidak terakomodir kepentingannya.

Selengkapnya...
 
Demokrasi Liberal sebagai Sistem Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail

Ulil Abshar-Abdalla:

Demokrasi Liberal sebagai Sistem
yang Menjanjikan Ruang Kebebasan Paling Lebar

Relasi ideal antara agama dan negara mestinya bentuk relasi yang tidak saling meniadakan. Persoalannya kalangan islamis demikian bernafsu agar agama bisa mendikte negara. Jika hal ini terjadi, maka tidak mustahil para penganut agama dan keyakinan di luar Islam mainstream akan selalu dipinggirkan hak-hak dan kebebasannya, sebagaimana kerap mereka alami selama ini. Untuk itu, demokrasi menjadi pilihan yang paling masuk akal. Sebab, demokrasi merupakan sistem yang memberikan ruang kebebasan paling besar. Elaborasi perihal demokrasi liberal, relevansi ruang privat dan ruang publik dan isu-isu keagamaan lainnya, dalam kesempatan ini dengan begitu meyakinkan disampaikan oleh Ulil Abshar-Abdalla, yang kini sedang menempuh PHD di Harvard University, Amerika Serikat ketika diwawancarai oleh reporter buletin KEBEBASAN, Tantowi Anwari, M. Akib dan Didi Ahmadi pada 20 Juni 2007 di Jakarta.  

Selengkapnya...
 
Demokrasi Yang Mengharagai Kemajemukan Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail

Demokrasi yang Menghargai Kemajemukan


Dalam praktiknya, sekularisme di masing-masing negara selalu berbeda. Sekularisme di banyak negara tidak identik dengan penolakan agama di ruang publik. Anehnya, di beberapa negara di luar Islam, dari kalangan masyarakatnya juga memendam semacam keinginan untuk menjadikan agama sebagai dasar negara. Jika gairah masyarakat untuk tetap berpandangan bahwa fungsi dan peran agama di ruang publik tidak dapat diabaikan, maka dibutuhkan upaya untuk memublikkan agama melalui public reason. Tetapi, jika belajar dari kasus Aceh, maka setiap usaha untuk melegal-formalkan nilai-nilai agama harus dilawan. Problem-problem seputar hubungan agama dengan ekspresi-ekspresinya di ruang publik dipaparkan dengan cukup bertenaga oleh Samsu Rizal Panggabean dalam wawancara yang dilakukan oleh reporter buletin KEBEBASAN, Tantowi Anwari, M. Akib dan Didi Ahmadi pada 11 Juni 2007 di Yogyakarta

Selengkapnya...
 
Tauhid Pluralisme Perspektif Gama Al-Bana Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Judul  : Doktrin Pluralisme Dalam al-Qur’an
Judul Asli : Al-Ta’adudiyyah fi al-Mujtama’ al-Islamiy
Penulis  : Gamal Al-Bana
Penerbit : Menara, 2006.
Penerjemah : Taufik Damas LC
Tebal  : 118 halaman
Selengkapnya...
 
Dialog seorang Amerika dengan Iran Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail

Judul    : The Hidden Face of Iran
Penulis   : Terence Ward
Penerjemah  : Berliani Nugrahani
Penerbit  : RAJUT Publishing
Cet I   : Maret 2007

 

Selengkapnya...
 
Merintis Jalan Ketiga Pemikiran Islam Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail

Merintis Jalan Ketiga Pemikiran Islam

Oleh: Moh. Shofan
Intelektual Muda Muhammadiyah


Dalam tulisan ini, penulis secara sadar berusaha memotret perjalanan tradisionalisme dan liberalisme dalam diskursus pemikiran Islam. Selanjutnya mencari alternatif kemungkinan yang bisa dijadikan ‘jalan tengah’ atau, istilah penulis, ‘jalan ketiga’ dari dua arus pemikiran Islam yang berkembang. Walaupun kedua istilah tradisionalisme dan liberalisme masih menyisakan banyak problem dalam dirinya sendiri, atau sebaliknya sudah memiliki kebenaran dalam dirinya sendiri, sehingga tidak menutup kemungkinan suatu pemikiran pada akhirnya akan menjadi suatu monumen yang anti terhadap kritik. Atau dengan bahasa lain, sebuah pemikiran yang dipuja-puja dan diagung-agungkan tersebut secara sendirinya akan kebal terhadap berbagai gempuran paradigma keilmuan dengan tawaran yang lebih trendy.

Selengkapnya...
 
Masihkah Revolusi Berlanjut? Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail

Oleh: M. Abdullah Badri

Anggota Jaringan Islam Kampus (JARIK) Semarang


Pergulatan pemikiran memang selalu mewarnai setiap perjalanan sebuah peradaban. Di setiap jembatan menuju gerbong perubahan, intelektualitas manusia berperan sangat signifikan. Tak berlebihan, jika transformasi dikata sebagai misi dari setiap hempasan pemikiran yang ada. Entah dari peradaban mana, dan di era seperti apa. Kontribusi akumulatif sebuah pemikiran terhadap progresivitas zaman tak bisa disepelekan. Sejarah telah membuktikannya.

Selengkapnya...
 
Edisi VII Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail

Salam Redaksi

Manakala kapasitas negara melemah dan sebaliknya kekuatan sipil kelewat demonstratif, maka yang harus pertama kali mendapat perhatian lebih dari pemerintah adalah minoritas. Di samping untuk memulihkan kepercayaan warga terhadap wibawa dan integritas pemerintah, ikhtiar ini sekaligus juga sebagai perwujudan dalam menjalankan amanat konstitusi atas kewajiban negara menjunjung tinggi, melindungi dan memenuhi hak-hak dan kebebasan seluruh warganya.

 

Selengkapnya...
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 Selanjutnya > Akhir >>

Hasil 1 - 13 dari 68
Copyright (c) 2007, LSAF - Lembaga Studi Agama dan Filsafat