Paus Benediktus XVI versus Islam?

Oleh Saidiman

 

Peneliti Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF); Alumnus Pon-pes Darud Dakwah wal Irsyad (DDI) Mangkoso, Sulawesi Selatan

 

Pernyataan Joseph Ratzinger, Paus Benediktus XVI, yang terkesan menyudutkan umat Islam memang sangat tidak bijak, tapi reaksi keras sebagian umat Islam juga tidak bisa dibenarkan. Di tengah ancaman konflik antar-agama, kerelaan hati untuk menahan diri dan bersikap toleran sangat dibutuhkan, terutama karena toleransi dan perdamaian berasal dari semangat dasar agama itu sendiri.

Persoalan ini bermula dari pernyataan Paus yang disampaikan pada kuliah umum di Universitas Regensburg, Bavaria, Jerman (12/09/2006). Paus sedang memberikan uraian tentang aspek-aspek yang berbeda antara Islam dan Kristen secara historis dan doktriner. Paus juga mencoba menjernihkan hubungan antara agama dan kekerasan. Saat itu Paus mengutip dokumen dari Theodore Khoury tentang sebuah dialog di Angkara, Turki, tahun 1391, antara Kaisar Byzantine Manuel II Paleologus dan seorang bijak dari Persia. Paus mengutip ungkapan Manuel II: “tunjukkan kepadaku apa kabar baru yang dibawa Muhammad, dan kalian akan menjumpai hal-hal yang tidak manusiawi, sebagaimana perintahnya menyebarkan dengan pedang agama yang dipeluknya.”

Kontroversi yang muncul ketika pernyataan Paus ini diketahui publik mengingatkan kita pada peristiwa protes umat Islam di banyak negara terhadap pemuatan kartun Nabi Muhammad di harian Denmark, Jyllands Posten. Sebagaimana protes terhadap kartun Nabi, kelompok-kelompok Islam juga melakukan aksi demonstrasi besar-besaran di pelbagai penjuru dunia, seperti Pakistan, Palestina, Kashmir, Afganistan, Maroko, Iran, Irak, Mesir, Malaysia, dan Indonesia. Protes tidak hanya dilakukan dalam bentuk demonstrasi, tapi juga dalam bentuk ancaman pembunuhan dan pembakaran gereja.

 

Kebiasaan Menghina Kelompok Lain

Pertanyaan penting yang perlu dijawab adalah kenapa belakangan ini, mungkin juga sejak masa lalu, umat beragama cenderung begitu bersemangat untuk menghina pemeluk dan ajaran agama lain. Kejadian Paus Benediktus hanyalah satu contoh di antara sekian banyak contoh bagaimana pemuka dan penganut agama begitu mudah mengeluarkan statement yang bisa melukai perasaan penganut agama lain. Kalau kita mau jujur, maka sebetulnya setiap hari bisa dijumpai bentuk-bentuk pernyataan pelecehan tersebut. Salah satu ayat favorit yang setiap pengajian, khutbah Jumat, atau ceramah Ramadan disajikan para da’i, penulis juga adalah da’i, kepada umat tanpa penjelasan historis adalah “wa lan tardha ank al-Yahudu wa la an-Nashara hatta tatta bia millatahum” (tidak akan pernah rela kaum Yahudi dan Nasrani itu sampai kalian menjadi pengikut agamanya). Ayat ini ditafsirkan begitu saja bahwa kaum Yahudi dan Nasrani (Kristen) selamanya akan menjadi musuh umat Islam.

Beberapa saat ketika Abu Bakar Ba’asyir bebas dari tahanan, beliau dengan lugas menyatakan bahwa ketika berhadapan dengan kaum Yahudi, maka mereka harus dipukul kepalanya. Abu Bakar Ba’asyir tidak bisa membedakan antara kebijakan politik Israel dan kaum Yahudi secara umum. Apakah Abu Bakar Ba’asyir sadar bahwa sebagian dari nabi-nabi yang dipercayai umat Islam adalah keturunan Yahudi, seperti Isa, Zakaria, Sulaiman, Daud, dan sebagainya? Lalu apakah umat Islam diperintahkan memukul kepala para nabi yang sangat dikasihi Tuhan itu? Generalisasi seperti ini begitu menyinggung perasaan, bukan hanya kaum Yahudi, tapi juga umat Islam sendiri. Orang Yahudi bukan hanya Ehud Olmert, tapi juga ada Edward Said yang selalu kritis terhadap pemerintahan Israel, juga ada Karl Marx yang menjadi pengkritik utama kapitalisme kaum Yahudi, serta Isaiah Berlin yang begitu kukuh menentang sektarianisme yang timbul akibat pendirian negara Israel.

Paus Benediktus juga begitu lalai terhadap stigma kekerasan yang ia—entah sadar atau tidak—sandangkan kepada umat Islam. Jika betul Islam adalah agama kekerasan, bisa dibayangkan akan seperti apa dunia ini, sebab Islam adalah agama yang dianut oleh lebih dari seperempat penduduk dunia. Di samping perspektif yang keliru, Paus juga tampaknya lalai terhadap dampak negatif yang mungkin timbul dari pernyataannya itu. Sejarah telah terlalu banyak mencatat bagaimana dua agama terbesar dunia ini, Islam dan Kristen, terlibat dalam konflik berdarah sejak mula persentuhannya. Alih-alih membangun dunia yang damai, pernyataan itu malah menjadi lahan subur terorisme dan kekerasan.

 

Ketidakmampuan Menerima Kritik

Di samping pernyataan permusuhan yang sangat tidak bijak, ketidakmampuan menerima kritik juga adalah masalah serius. Kerapkali konflik antar-agama muncul dari ketidakdewasaan pemeluk agama untuk menerima kritik. Reaksi keras dengan melakukan kekerasan oleh sebagian umat Islam akibat pernyataan Paus adalah tindakan yang kontraproduktif dan tidak dewasa. Dengan tidak memungkiri ketidakbijakannya, pernyataan Paus tersebut seharusnya disikapi sebagai bentuk kritik terhadap fenomena bangkitnya fundamentalisme, budaya kekerasan, dan terorisme di kalangan umat Islam. Tidak ada yang bisa membantah, bahwa Islam telah dibawa-bawa oleh segolongan orang yang mengamini tindakan kekerasan sebagai kebenaran. Fakta bahwa peradaban Islam, juga peradaban lain di luar Islam, penuh dengan cerita peperangan tidak bisa dibantah. Meskipun fakta perdamaian juga adalah kebenaran faktual.

Apa yang dikemukakan Paus, meskipun tidak semuanya benar, memiliki kebenaran sejarah yang nyata ketika kita menyaksikan penaklukan-penaklukan yang dilakukan tentara Islam sejak awal ekspansinya. Expansi Islam ke Eropa, Spanyol, dilakukan dengan menaklukkan Andalusia dengan perang yang sangat dahsyat. Cerita perang penaklukan yang dipimpin panglima Islam fenomenal, Thariq bin Ziyad, itu kemudian diabadikan menjadi nama selat tempat pasukan Islam menyeberang ke Eropa, selat Giblaltar. Cerita penaklukan Palestina juga tak kalah serunya. Demikian pula kota-kota lain, bahkan kota Mekah sekalipun. Meskipun hari pembebasan kota Mekah tidak menumpahkan darah setetespun, tapi tampak nyata bahwa Nabi Muhammad memang memimpin bala tentara yang demikian banyak, sehingga membuat nyali penduduk kota Mekah ciut lalu beralih dukungan kepada Nabi. Setelah Nabi wafat, tampak nyata bahwa dukungan itu tidak sungguh-sungguh ikhlas, sebab kemudian muncul kaum pembangkang yang tidak membayar zakat (pajak) atau mendeklarasikan nabi palsu.

Tentu saja cerita semacam ini bisa didebat dan dikoreksi dengan pelbagai argumentasi. Salah satu argumentasi menarik dari mereka yang menolak Islam dianggap menyebar melalui pedang adalah bahwa di semua wilayah yang ditaklukkan oleh Islam, tidak satupun kebijakan pemerintah yang memaksa warga taklukannya untuk melakukan konversi agama menjadi pemeluk Islam. Fenomena penyebaran Islam di Asia Tenggara dan Cina juga adalah fakta bagaimana Islam berkembang secara kultural melalui interaksi budaya, ekonomi, dan perkawinan. Tidak pernah ada penaklukan Islam secara politik di Asia Tenggara, padahal wilayah ini adalah wilayah berpenduduk Muslim yang sangat signifikan.

Di atas segalanya, kedua pendapat ini mungkin tampak sama-sama kuat, juga masing-masing memiliki kelemahan. Untuk mencapai satu kongklusi yang bertanggungjawab, maka kedua argumentasi ini harus dikatakan dan dipublikasikan, agal terjadi dialog. Kita tidak mungkin bersembunyi di balik kebenaran yang tidak pernah dikoreksi dan diuji keabsahannya. Apa yang dilakukan Paus seharusnya menjadi tantangan bagi sarjana-sarjana dan umat Islam secara umum untuk memeriksa kembali kebenaran yang selama ini dianut, misalnya bahwa Islam adalah agama perdamaian. Apakah klaim sebagai agama perdamaian itu bisa menjawab fakta terorisme yang kian marak di dunia Islam? Pertanyaan seperti ini harus dijawab, bukan dengan reaksi kekerasan, melainkan dengan argumentasi yang bertanggungjawab. Reaksi kekerasan terhadap pernyataan Paus, apalagi dengan melakukan percobaan pembunuhan dan pembakaran gereja, hanya akan menjadi pembenar bagi kritikan Paus itu sendiri. Umat Islam harus mampu membuktikan bahwa Islam adalah agama damai dan selalu mengedepankan rasionalitas, ketimbang emosi.